Ikan Mujair – Penemu, Taksonomi, Morfologi, Ciri, Habitat & Manfaat
Ikan mujair ialah salah satu komoditas ikan air tawar yang mudah hidup dan mengikuti keadaan serta dikembangbiakan di berbagai kondisi. Ikan dengan nama latin Oreochromis mossambicus ini mampu bertahan hidup di rentang habitat yang luas, adalah pada keadaan air berkadar garam tinggi sampai tingkat salinitas rendah.
Perkembangbiakan ikan mujair tergolong cepat jikalau dibandingkan dengan jenis ikan air tawar lain sehingga menjadi komoditas budidaya perikanan yang banyak digeluti. Selain ketersediaan melimpah, nilai gizi mujair juga cukup tinggi sehingga mendorong penduduk menentukan ikan ini dijadikan hidangan makanan sehari-hari.
Sejarah & Penemu Ikan Mujair
Nama mujair diambil dari penemu ikan ini. Menurut sejarah, ikan mujair didapatkan oleh Mbah Moedjair ketika mencari ikan di muara Sunga Serang, selatan Blitar pada tahun 1939. Belu
Beliau yang pertama kali mendapatkan ikan tersebut tertarik akan kebiasaan induk ikan yang seolah menelan anak-anaknya ketika ada bahaya bahaya dan kembali memuntahkannya ketika sudah aman. Dari sifat unik inilah kemudian dia memeliharanya.

Budidaya ikan mujair yang dilaksanakan oleh Mbah Moedjair berhasil mengubah habitat yang tadinya hidup di air asin menjadi mampu hidup di bak air tawar. Keberhasilan percobaan tersebut membuat mujair gampang dipelihara dan dibudiyakan. Namun sebelum itu, dia mesti melalui 11 kali percobaan dengan cara menurunkan kadar adonan air asin dalam gentong pemeliharaan.
Pada hasil percobaan yang ke 11, Mbah Moedjair berhasil menerima 4 ekor ikan yang betul-betul bisa beradaptasi dengan lingkungan air tawar. Hasil budidaya tersebut lalu disebar ke tetanganya dan sebagian lainnya dijual.
Bermula dari 4 ekor ikan hasil budidaya Mbah Moedjair, saat ini ikan mujair menjadi ikan favorit dan banyak dipeliahra di kolam, telaga, sungai, dan danau di Indonesia.
Berkat usahanya tersebut, Mbah Moedjair mendapatkan penghargaan berupa pinjaman nama spesies ikan dari Pemeritahan Hindia Belanda lewat asisten residen Kediri. Sedangkan enghargaan dari Pemerintahan Republik Indonesia diberikan melalui Kementerian Pertanian pada tahun 1951, serta Penghargaan Internasional diperoleh dari Konsul Komite Perikanan Indo Pasifik pada tahun 1953.
Taksonomi
Spesies ikan yang awalnya hidup di perairan air asin sebelum risikonya dibudidayakan di air tawar ini diklasifikasikan selaku berikut:
| Kingdom | Animalia |
| Filum | Chordata |
| Ordo | Perciformes |
| Famili | Cichlidae |
| Genus | Oreochromis |
| Spesies | Oreochromis mossambicus |
Morfologi
Meski ditemukan di Indonesia, tetapi sebaran alami ikan ini berasal dari perairan Afrika, tepatnya di sekeliling dataran rendah Zambesi, Shire, hingga Pantai Algoa. Saat ini, ikan mujair sudah tersebar luas hingga ke lebih dari 90 negara di dunia, termasuk Indonesia.
Awalnya, mujair diperkenalkan selaku ikan budidaya atau ikan komersial sejak penemuannya oleh Mbah Moedjair. Bahkan, di beberapa negara ada yang memperkenalkan ikan ini sebagai ikan hias.
Ikan mujair mampu digolongkan menjadi beberapa jenis berbeda, yakni mujair merah, mujair biasa, dan mujair albino. Sedangkan berdarkan warna sisiknya, ikan ini terbagi menjadi lima varietas, ialah mujair sisik putih, hitam, merah, abu-debu, dan debu-debu bercak putih.
Mujair ialah jenis ikan konsumsi air tawar dengan tubuh berwarna bubuk-abu, hitam, ataupun cokelat. Tubuh mujair pipih dan memanjang serta dilengkapi garis vertikal, mempunyai sisik kecil bertipe stenoid. Selain itu, ikan ini juga mempunyai sirip ekor dengan garis berwarna merah.
Warna tubuh ikan mujair tergantung pada lingkungan atau habitat kawasan tinggalnya. Bentuk mulutnya cenderung besar dengan geligi halus yang terletak secara terminal atau di ujung tubuh.
Ikan ini mempunyai linea lateralis yang tidak sempurna. Bahkan, bisa dibilang terputus sebab terbelah menjadi dua bagian. Jumlah sisik ikan mujair pada garis rusuk bab atas sebanyak 18 sampai 21 diikuti garis rusuk di bagian bawah sebanyak 10 sampai 15. Sirip dada dan perut berwarna hitam kemerahan. Lain halnya dengan sirip punggung dan sirip ekor yang berwarna kemerahan cuma pada bagian ujung.
Ciri Khas Mujair
Ikan mujair mempunyai beberapa ciri khas dan karakteristik tertentu, mirip dagu berwarna kekuningan yang biasanya tampaklebih terang pada ikan jantan remaja. Tidak hanya itu, panjang badan mujair meraih dua sampai tiga kali dari tinggi badannya.

Ciri lain yang harus diperhatikan untuk membedakan induk jantan dan betina yakni tiga lubang pada bagian urogenital. Mujair betina memiliki lubang pengeluaran telur, dubur, dan lubang urine. Selain itu, ujung siripnya berwarna pucat kemerahan, warna dagu dan perut lebih putih, serta perut tidak mengeluarkan cairan dikala ditekan.
Sementara mujair jantan cuma mempunyai dua lubang pada bab urogenital yang berisikan anus dan lubang sperma merangkap lubang urine. Ujung siripnya berwarna kemerahan, jelas, dan terang. Namun, warna perutnya lebih gelap, kehitaman, warna dagu hitam kemerahan, dan perutnya akan mengeluarkan cairan saat ditekan.
Habitat Ikan Mmujair
Ikan mujair mampu didapatkan di berbagai jenis habitat, seperti air tawar, payau, hingga air laut dengan salinitas tinggi. Ikan ini bisa bertahan hidup dalam keadaan payau karena mempunyai ketahanan dan toleransi kepada salinitas serta rentang suhu luas. Menariknya, ikan yang juga diketahui sebagai ikan tropis ini jarang didapatkan di dataran tinggi atau pegunungan.
Mujair tergolong kelompok omnivora yang mengonsumsi aneka detritus, diatom, dan binatang invertebrata lain. Bahkan, ada juga mujair yang mengonsumsi alga serta fitoplankton. Sementara mujair juvenile atau ikan sampaumur bersifat karnivora dan kanibal.
Di alam liar, mujair hidup secara berkelompok yang umumnya berada di sekitar tempat perairan tenang, mirip sungai, danau air tawar, dan bendungan. Mujair mampu dipelihara di dalam akuarium, tetapi pertumbuhannya tidak akan secepat jika dipelihara di kolam atau alam terbuka.
Bibit ikan mujair juga sering ditebarkan di area persawahan ketika isu terkini tanam tiba. Bibit ini bisa berkembang sampai ukuran konsumsi, yakni sekitar 12 sampai 15 cm bersamaan dengan animo panen padi.
Ikan ini termasuk spesies yang mampu mengikuti keadaan dengan kondisi lingkungan yang kurang ideal. Selain memiliki toleransi tinggi terhadap kadar garam dalam air, ikan ini juga bisa hidup di air yang mengandung amonia di atas rata-rata atau air dengan kandungan oksigen terbatas.
Jika kita bermaksud untuk memelihara ikan mujair di dalam kolam, seharusnya buatlah bak dengan sistem pengairan mengalir demi kemajuan dan pertumbuhan fisik ikan tersebut. Selain itu, perhatikan pula tingkat keasaman air atau pH yang berkisar antara 5-8 dan suhu antara 20o hingga 27o Celsius. Kualitas air untuk pemeliharaan ikan ini harus higienis, tidak tercemar, dan tidak terlampau keruh.
Meski ideal hidup di dataran rendah, ikan ini juga bisa tumbuh wajar di lokasi pemeliharaan yang berada di ketinggian antara 150 sampai 1000 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Manfaat Ikan Mujair
Ikan mujair sangat sering dijadikan makanan pengganti ikan bahari mengingat harga ikan bahari yang kian hari semakin mahal. Di samping itu, ikan ini juga memiliki kandungan gizi tinggi yang sangat berkhasiat bagi kesehatan.
Mengonsumsi ikan mujair secara berkala terbukti mampu menghambat banyak sekali imbas buruk dari penyakit kardiovaskular. Bahkan berdasarkan para mahir gizi, mengonsumsi mujair sebanyak 30 gram sehari bisa menurunkan risiko ajal yang diakibatkan oleh penyakit jantung.
Comments
Post a Comment